Good News From Aceh
SosokPolitikSejarah

Kisah Menarik Malik Mahmud Sebelum Menjadi Wali Nanggroe Aceh

malik mahmud

PYM Tgk Malik Mahmud Al-Haythar memiliki kisah hidup yang menarik sebelum dinobatkan sebagai Wali Nanggroe Aceh. Simak ulasan Apamin ini. 

Anak Saudagar & Pejuang Aceh 

Paduka Yang Mulia Tgk Malik Mahmud Al Haythar memiliki nama asli Malik Mahmud. Ia lahir pada 29 Maret 1939.

Ayahnya Tgk Haji Mahmud (disebut) berasal dari Lampuuk, Aceh Besar. Ibunya Nyak Asiah berasal dari Gampong Lampreh (dekat Bundaran Lambaro), Aceh Besar.

Orangtuanya merupakan saudagar Aceh yang kaya raya, sekaligus pejuang.

Tgk Mahmud membangun usaha saat Hindia Belanda tengah gencar-gencarnya melakukan monopoli bisnis melalui VOC.

Ia memiliki gerai rempah-rempah di Kutaraja. Menjual hasil alam Aceh ke Negeri Jiran.

Bukan semata-mata untuk keuntungan pribadi, dari hasil bisnisnya, ayah Malik Mahmud juga membantu para pejuang Aceh melawan Belanda.

Baca juga: Peristiwa Kuala Batee, Aceh Lawan Amerika Gara-gara Bisnis Rempah

Ayahnya membeli senjata di luar negeri untuk disuplai kepada para mujahidin Aceh. Ketahuan Belanda, tokonya disegel.

Tak mau bangkrut. Tgk Mahmud memutuskan hijrah. Atas izin Sultan dan pejabat Kerajaan Aceh Darussalam, ia merantau ke Singapura pada tahun 1925.

Lahir di Singapura

Kisah Menarik Malik Mahmud Sebelum Menjadi Wali Nanggroe Aceh

Tgk Mahmud merintis usahanya di Singapura yang masih dalam cengkraman Inggris. Namun begitu, ayah Malik Mahmud tetap sukses berniaga di perantauan. Dengan cepat, ia berhasil jadi importir hasil alam Aceh.

Dan laba dari usahanya juga masih digunakan untuk membeli senjata kepada pejuang Aceh untuk melawan Belanda.

Rejeki tak kemana. Usaha Tgk Mahmud terus melejit hingga ia ekspansi bisnis sampai ke Tokyo. 

Malik Mahmud pun lahir di Singapura. Ia menghabiskan masa kecilnya di Kampung Aceh-nya Singapura.

Kampung Aceh di Singapura adalah sebuah komplek di Kampung Geylang yang awalnya dibangun Tgk Mahmud untuk para pekerjanya.

Kampung itu kemudian jadi tempat persinggahan bagi orang Aceh, dan kelak jadi “madrasah” bagi Malik Mahmud remaja mengenal Aceh lebih dekat, sampai Kampung Aceh itu hilang sekitar tahun 1960-an.

Memulai Perjuangan untuk Aceh

malik mahmud di/tii

Pada September 1953, perang DI/TII pecah di Aceh. Tgk Daud Beureueh memimpin pemberontakan.

Ayah Malik Mahmud turut membantu, bahkan ditunjuk sebagai duta di Singapura.

Saat itu Malik masih remaja dan ia dilibatkan ayahnya terutama ketika pejuang DI/TII Aceh singgah di Singapura; melakukan rapat penting di rumah ayahnya. 

Malik Mahmud ikut membantu dan mendampingi ayahnya saat kedatangan tokoh DI/TII Aceh.

Malik Mahmud juga berinteraksi dengan mereka. Terutama untuk menyerap dan menggali informasi mengenai Aceh.

Adik kandung Amir Rasyid Mahmud–eks Menteri Perdagangan Pemerintahan GAM–itu juga ditugaskan untuk melakukan korespondensi dengan pejuang DI/TII, termasuk Tgk Hasan Tiro yang merupakan Duta DI/TII di Amerika Serikat.

Dari situlah, Malik Mahmud mulai berhasrat untuk terlibat lebih jauh dalam perjuangan untuk Aceh.   

Pertama Kali Bertemu Hasan Tiro

malik mahmud hasan tiro

Tgk Hasan Tiro berkunjung ke Singapura pertama kali pada awal tahun 1963. Menginap di rumah Tgk Mahmud.

Malik Mahmud pun banyak berdiskusi soal Aceh bersama keturunan Tgk Chik Di Tiro Muhammad Saman itu.

Saya tertarik penampilannya, sopan, wibawa, karismatik. Saya banyak belajar darinya.

Demikian kata Tgk Malik Mahmud mengenang pertemuannya dengan Hasan Tiro, dalam buku biografinya “Wali Nanggroe PYM Tgk Malik Mahmud Al-Haythar; Pemimpin Adat Aceh”.

Saat itu gejolak DI/TIl baru saja berakhir. Malik kembali bantu ayahnya berniaga. Begitu juga Tgk Hasan Tiro yang membangun bisnis di AS.

Relasi keduanya terus terjalin lewat surat-menyurat. Sesekali Malik Mahmud pulang ke Aceh untuk melihat langsung kondisi Aceh.

Hingga akhirnya, Tgk Hasan Tiro mendeklarasikan Gerakan Aceh Merdeka pada 4 Desember 1976.

Tgk Hasan Tiro resmi menjabat Wali Negara dan Malik Mahmud yang berdomisili di Singapura ditunjuk sebagai Perdana Menteri.

Berjuang Bersama GAM

malik mahmud gam

Malik Mahmud mengemban tugas berat sebagai Meuntroe. Dari Singapura, ia menjadi penghubung antara Wali Hasan Tiro di Swedia dan Dewan Wali Nanggroe serta para gerilyawan di Aceh.

Malik sering terbang ke Swedia. Tugasnya antara lain memasok senjata hingga merekrut pasukan untuk dilatih di Maktabah Tazzura di Libya.

Ia juga sering ke Libya bersama Hasan Tiro. 

Tahun 1998, masa reformasi, Pemerintah Indonesia dan GAM mulai memikirkan upaya perdamaian. Setahun kemudian, perdamaian dirintis.

Saat itu Tgk Malik Mahmud memiliki peran penting. Pada Juli 2002 perwakilan bangsa Aceh dari seluruh dunia menggelar “Mufakat Bangsa Atjeh Ban Sigom Donja” di Stavanger, Norwegia.

Pertemuan yang dihadiri Tgk Hasan Tiro ini juga menetapkan Tgk Malik Mahmud sebagai Perdana Meuntroe GAM serta sejumlah meuntroe lainnya dalam Pemerintahan GAM.

Memimpin Delegasi GAM di Perundingan

malik mahmud aceh

Para petinggi GAM terus berupaya melakukan perundingan damai.

Perang sempat henti sejenak setelah adanya kesepakatan gencatan senjata dan penghentian permusuhan dalam Perundingan Jenewa di tahun 2002.

Baca juga: 5 Tokoh GAM Ditangkap Sebelum Menghadiri Tokyo Meeting

Namun perjanjian ini gagal. Lalu pada tahun 2003, dilangsungkan perundingan damai di Jepang yang dikenal Tokyo Meeting.

Tgk Malik Mahmud mengetuai delegasi Aceh. Perundingan ini juga tidak mencapai titik temu, terutama setelah 5 negosiator GAM dari Aceh ditangkap saat hendak berangkat ke Tokyo.

Perjanjian damai dihentikan, Aceh berstatus Darurat Militer.

Operasi militer di Aceh ini berlangsung setahun dari Mei 2003 – Mei 2004. Banyak korban sipil berjatuhan. Masyarakat Aceh terpuruk.

Di Aceh kemudian ditetapkan status Darurat Sipil. Namun suara tembakan terus menghantui warga Aceh. Hingga tsunami menerjang pada 26 Desember 2004, Aceh luluh lantak.

Bencana ini barangkali juga meluluhkan hati kedua belah pihak, hingga kembali menuju meja perundingan.

Kontribusi MoU Helsinki

malik mahmud mou helsinki

Tgk Malik Mahmud sempat ditemui Juha Christensen (eks anggota Parlemen Finlandia) setelah gagalnya Tokyo Meeting untuk menawarkan perundingan damai.

Ia menolak proposal Juha. Namun pada upaya keduanya, tawaran Juha dikabulkan petinggi GAM lewat Malik Mahmud.

Petinggi GAM sepakat, dengan syarat Finlandia bersedia jadi tuan rumah perundingan damai atau ada salah satu tokoh Finlandia terlibat dalam perundingan.

Juha lantas meminta kesediaan eks Presiden Finlandia Martti Ahtisaari sebagai mediator. Tgk Malik Mahmud pun sepakat!

Adanya peristiwa tsunami pada akhir tahun 2004 mempercepat proses perundingan. Pertemuan pertama kedua belah pihak berlangsung pada 27 Januari 2005.

Tgk Malik Mahmud memimpin Delegasi GAM dan Hamid Awaluddin di Pihak RI. Perundingan di Helsinki, Finlandia, ini berlangsung hingga lima putaran.

Akhirnya, kedua pihak sepakat berdamai pada 15 Agustus 2005, yang tertuang dalam Nota Kesepahaman antara RI – GAM yang dikenal MoU Helsinki. 

Wali Nanggroe Aceh 

malik mahmud wali nanggroe

Senin, 16 Desember 2013. DPRA menggelar Sidang Paripurna Istimewa untuk mengukuhkan Tgk Malik Mahmud Al Haythar sebagai Wali Nanggroe Aceh ke-9.

Itu merupakan salah satu amanah hasil kesepakatan MoU Helsinki, kemudian diatur kembali dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh.

Prosesi pengukuhan ditandai dengan lantunan azan oleh Qari Internasional asal Aceh, Hamli Yunus. 

Suasana mendadak hening, semua menghayatinya.

Baca juga: Ishak Daud Panglima GAM Kharismatik yang Tak Sempat Rasakan Manisnya Perdamaian

Usai azan, tepat pukul 10.00 WIB, Malik Mahmud mengucapkan sumpahnya sebagai Wali Nanggroe Aceh ke-9 (barangkali perlu didiskusikan lagi, ia Wali Negara yang ke-9 atau Wali Nanggroe Aceh yang pertama setelah MoU atau kedua setelah Daud Beureueh di DI/TII).

Sejak itu, ia berhak menyandang gelar Al Mukarram Maulana Al Mudabbir Al Malik alias Paduka Yang Mulia Tgk Malik Mahmud Al Haythar. 

Apa sudut pandang positif #WargaAcehPlus mengenai Malik Mahmud?[]

Sumber Bacaan:
Buku “Wali Nanggroe PYM Tgk Malik Mahmud Al-Haythar; Pemimpin Adat Aceh”. Cet. 1, 2019. Sekretariat Lembaga Wali Nanggroe.

Related posts