Good News From Aceh
SejarahSosok

Teuku Ben Mahmud, Uleebalang Trumon Pertama Yang Menentang Belanda

teuku ben mahmud

Sejarah Trumon identik dengan perdagangan dan perlawanan. Cerita ini merupakan sekuel pertama perlawanan Kerajaan Trumon dibawah pimpinan Teuku Ben Mahmud melawan Kolonialis Hindia Belanda. Yuk simak ulasan ini hingga tuntas.

Trumon Lumbung Rempah

teuku ben mahmud acehplus

Trumon sebagai wilayah yang otonom dari Kerajaan Aceh Darussalam tidak terlepas dari rongrongan kolonial Belanda.

Sebagai daerah yang menjadi lumbung rempah di wilayah barat-selatan Aceh, Trumon menjadi sasaran empuk penaklukan Belanda terhadap wilayah Kerajaan Trumon. 

Melihat kondisi ini kemudian muncul perlawanan dari masyarakat wilayah Trumon.

Adalah Teuku Ben Mahmud, uleebalang Trumon (penguasa wilayah), yang menggerakkan massa untuk melawan penjajahan Belanda di wilayahnya.

Karena punya pengaruh besar, cukup mudah baginya merangkul masyarakat untuk menyerang balik Belanda. 

Gara-Gara Jatuhnya Blangpidie

Jatuhnya Blangpidie ke tangan Belanda menjadi alasan utama bagi Kerajaan Trumon untuk menentang kolonialisme.

Blangpidie sebagai sentral penghasil lada menjadi sangat penting bagi Trumon sebagai penguasa pelabuhan dan perdagangan di wilayah barat-selatan Aceh. 

Upaya merebut Blangpidie oleh Teuku Ben Mahmud jadi babak pertama Kerajaan Trumon melawan Belanda.

Misi ini dimulai tahun 1900 ketika Teuku Ben Mahmud menyerang Belanda di Blangpidie untuk pertama kalinya.

Dalam perlawanan ini, pihak Teuku Ben Mahmud harus kehilangan 47 anggota pasukannya akibat ditembak pasukan Hindia Belanda.

Dari Barat-Selatan hingga Dairi

teuku ben mahmud acehplus

Setelah memulai penyerangan terhadap Belanda di Blangpidie, perlawanan Teuku Ben Mahmud mulai dikenal.

Ia kemudian melancarkan serangan kepada Belanda mulai dari Blangpidie, Kuala Batee, hingga Rawa Singkil.

Aksi perlawanannya bahkan sampai ke luar Aceh yaitu ke Dairi untuk membantu Sisingamangaraja. 

Dalam berbagai penyerangan, Teuku Ben Mahmud dibantu orang-orang kepercayaannya seperti Haji Yahya dari Alue Paku, Said Abdurrahman dari Terbangan dan Teuku Cut Ali dari Terbangan.

Ia juga sempat dibantu beberapa pasukan dari Gayo seperti Ang Bali Ari Cane Toa, Raja Chik Padang dan Raja Chik Pasir. 

Dipaksa Menyerah 

lawan belanda

Bukan Belanda namanya jika tak bisa meredam perlawanan di wilayah koloninya. Segala cara ditempuh untuk meredam perlawanan Teuku Ben Mahmud.

Belanda berusaha keras membujuk penguasa Trumon itu turun gunung. Adalah Kapten WBJA Scheepens yang mahir berbahasa Aceh, membujuk Teuku Ben Mahmud turun gunung dan berdamai dengan Belanda. 

Pada tahun 1908, Teuku Ben pun bersedia turun gunung dengan syarat dikembalikannya para tawanan pertempuran di barat-selatan Aceh seperti Teuku Muhammad Idris, Tgk Muhammad Rajab, Tgk Syeikh Syuib, Keuchik Cut, Raja Lheue, dan Tgk Arifin.

Belanda setuju. Teuku Ben menyerah dengan membawa 160-an pasukannya.

Turun gunung bukan berarti berakhirnya perlawanan terhadap Belanda. Tongkat estafet perlawanan kemudian diteruskan oleh putranya yaitu Teuku Banta Sulaiman.

Karena kebenciannya terhadap Belanda begitu besar, Teuku Ben Mahmud tetap memberikan dukungan secara diam-diam kepada pasukan muslimin untuk melawan kafir penjajah. 

Baca juga: Peristiwa Kuala Batee Ketika Militer AS Serang Pejuang Aceh

Teuku Ben Mahmud sempat melakukan beberapa orasi perlawanan di masjid Blangpidie. Aksinya ini kemudian ketahuan oleh militer Belanda.

Akhirnya, Belanda membungkam Teuku Ben Mahmud dengan membunuh tokoh perjuangan itu dan beberapa pengikut setianya diasingkan ke Ambon, Maluku pada tahun 1911.

Kini, Teuku Ben Mahmud dikenang sebagai salah satu pahlawan perjuangan rakyat Aceh melawan Belanda di wilayah Barsela.[]

Sumber:

Trumon sebagai Kerajaan Berdaulat dan Perlawanan Terhadap Kolonial Belanda di Barat-Selatan Aceh, Misri A. Muchsin. Dinas Kebudayaan Dan Pariwisata Aceh. 2019 

Related posts